Beranda > Demokrasi > Ahmadiyah & Piala Eropa 2008

Ahmadiyah & Piala Eropa 2008

Ahmadiyah & Piala Eropa 2008

Yakub Adi Krisanto

Ide mengenai tulisan ini menyeruak ketika melihat pertandingan Piala Eropa 2008 antara Rusia vs Spanyol. Meskipun tidak sampai selesai, tetapi (pertandingan) Piala Eropa 2008 dapat menjadi sarana refleksi bagi gegap-gempita situasi politik di negara ini. Semua pihak yang terlibat dalam suatu pertandingan sepakbola meskipun berada dalam posisi yang berhadap-hadapan tetap dapat menghasilkan keteraturan dan ketertiban. Kesamaan tujuan untuk memenangkan pertandingan tidak sampai menciderai hakekat olahraga yaitu sportivitas dalam bingkai kompetisi.

Dalam sebuah pertandingan sepakbola benturan dalam perebutan bola sering bahkan niscaya terjadi, pelibatan emosi dapat mengarahkan para pemain untuk terlibat dalam tegangan konflik. Tetapi sampai saat ini Piala Eropa belum terjadi hal-hal yang sering terjadi di Liga Indonesia, seperti pemukulan pemain, penganiayaan wasit atau tawuran antara pemain atau suporter. Di Indonesia satu tujuan menghasilkan fanatisme yang berlebihan dan meninggalkan prinsip sportivitas dalam bingkai kompetisi. Persaingan meniscayakan lahirnya pihak yang menang dan kalah, dan kemenangan dan kekalahan hanya ditentukan dari proses pertandingan yang terjadi dilapangan dengan tetap percaya pada mekanisme (pertandingan) yang dibangun dan diawasi oleh perangkat pertandingan (wasit dan asisten wasit).

Wasit (& asisten wasit) ibarat aparat penegak hukum yang wajib dihormati setiap keputusannya. Lihat bagaimana pemain Italia (kecuali Luca Toni) yang tidak melakukan reaksi yang berlebihan ketika wasit mengesahkan goal Ruud van Nilsterooy ke gawang Buffon. Meskipun menurut persepsi subyektif para pemain & official Italia Ruudtje terjebak offside. Dan bagaimana reaksi genttlement pemain dan supporter Austria & Swiss yang timnya kalah dalam pertandingan perdana di ‘kandang’ sendiri.

Pertanyaannya adalah apa kaitannya antara Ahmadiyah dengan Piala Eropa 2008? Sebagian rakyat Indonesia masih sering mempunyai keinginan untuk win-lose apabila terjadi perbedaan pendapat atau konflik. Dan selalu berpandangan bahwa pihak yang berbeda pendapat merupakan lawan atau musuh yang harus dihancurkan. Situasi tersebut timbul karena ketidakmampuan memahami dalam wilayah obyektifitas-rasional dan berpandangan bahwa diluar subyektifitas adalah salah (atau kafir).

Sepakbola yang ditampilkan di Piala Eropa merefleksikan bahwa perbedaan bangsa bahkan ideologi dan mungkin keyakinan (baca: agama) mampu bersinergi. Sinergisitas telah mendorong tampilnya sport entertainment yang memukau dan menghibur tidak hanya rakyat di benua Eropa tetapi juga pecinta bola di seluruh Indonesia. Keniscayaan benturan fisik dan emosional yang terjadi dapat teredam pada kepatuhan terhadap aturan yang ditegakkan oleh wasit. Kepatuhan terjadi karena kesadaran berhukum dari pemain (dan pelatih) sepakbola sudah terbentuk dari pengalaman historis mereka. Dan hukum (dalam sepak bola dikenal dengan kode disiplin) benar-benar ditegakkan dan semua pelanggaran yang dilakukan baik didalam maupun diluar pertandingan mengacu pada kode disiplin tersebut.

Dalam konteks Ahmadiyah, sudahkah SKB nomor 3 tahun 2008, nomor KEP-033/A/JA/6/2008, nomor 199 tahun 2008 (terimakasih mas sofianblue atas komentarnya) mengacu pada konstitusi negara dan undang-undang tentang HAM. SKB selain tidak mengacu pada UUD 1945 juga tidak memberikan solusi yang dapat melegakan Ahmadiyah. Tuduhan penistaan agama dapat menjadi circle of precedent bagi agama-agama Abraham yang ada di Indonesia. Bahwa Ahmadiyah sudah melakukan penistaan agama ketika mengakui ada nabi lain selain (setelah) Muhammad SAW dapat digunakan untuk ‘mengancam’ agama-agama Abraham lain yang mengakui nabi-nabi lain, bahkan ada nabi yang diyakini sebagai satu-satunya Tuhan & Juruselamat manusia.

Melampaui subyektifitas keyakinan perlu mendapatkan penekanan dan membutuhkan ruang untuk mengendapkan tampilan subyektifitas keyakinan tersebut ketika berinterelasi dengan subyek lain. Klaim kebenaran dalam hal keyakinan hendaknya dilakukan dalam keintrisikan personal dan pelampauannya yang melahirkan pelanggaran hukum (bukan hukum agama) hendaknya menjadi wilayah negara untuk menangani. Penanganannya harus dilakukan tanpa diskriminasi atau tanpa preferensi keyakinan dari aparatur negara. Sehingga negara hanya melakukan penindakan terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pemeluk keyakinan ketika mengamalkan kaidah atau syariat agama.

Tindakan negara yang demikian bertolak dari fakta bahwa negara Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat), tidak didasarkan atas keyakinan agama tertentu. Di Piala Eropa 2008, bangsa Indonesia diajari bagaimana menghormati hukum dengan menyerahkan semua konflik yang terjadi di didalam maupun diluar lapangan diselesaikan degan menaati rule of the game.

Dan negara dengan SKB, pada butir keempat menyatakan bahwa “memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI”. Ini bentuk konsistensi dengan UUD 1945 bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, dan warga negara atas nama apapun diluar hukum tidak boleh melakukan penilaian (judgement) terhadap warga negara atau kelompok masyarakat lain.

Ahmadiyah & Piala Eropa 2008 dibedakan dengan rentang jarak tetapi substansi atau kehakekatan perhelatan dan permasalahan yang terjadi dapat memberikan kontemplasi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Satu hal diantara keduanya adalah penegasaan bahwa “berbeda-beda tetapi tetap satu” (bhineka tunggal ika, unity in diversity). Akankah ke-Ika-an kita akan ditenggelamkan dengan keberbedaan yang lebih sering ditonjolkan.

Kategori:Demokrasi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: